MAKALA AQIDAH ISLAM
TAHUN 2016
DI SUSUN OLEH
YUDI KRISTIANTO
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ 3
KATA PENGANTAR............................................................................................ 3
DAFTAR
ISI.............................................................................................................
2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................
4
A. Latar Belakang masalah........................................................................................ 4
B. Tujuan penulisan.................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN TEORI........................................................................... 5
A. Pengertian aqidah.................................................................................................. 5
B. Ruang lingkup pembahasan aqidah....................................................................... 5
C. Kemahaesaan allah................................................................................................ 6
D. Kiamat, hukum alam, dan akhirat......................................................................... 7
A. Latar Belakang masalah........................................................................................ 4
B. Tujuan penulisan.................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN TEORI........................................................................... 5
A. Pengertian aqidah.................................................................................................. 5
B. Ruang lingkup pembahasan aqidah....................................................................... 5
C. Kemahaesaan allah................................................................................................ 6
D. Kiamat, hukum alam, dan akhirat......................................................................... 7
E. Peranan
malaikat, dan makhluk ghaib lainnya serta pengaruhnya terhadap
manusia
F. Tugas dan
peranan Nabi dan
Rasul.......................................................................
G. Fungsi
Kitab suci yang dibawa
Rasul...................................................................
H. Pengertian
qadha dan qadar..................................................................................
BAB III PENUTUP................................................................................................. 10
A. Kesimpulan........................................................................................................... 10
B. Saran...................................................................................................................... 10
BAB III PENUTUP................................................................................................. 10
A. Kesimpulan........................................................................................................... 10
B. Saran...................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
11
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “AQIDAH ISLAM”
Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian AQIDAH ISLAM atau yang lebih khususnya membahas pengertian aqidah islam,ruang lingkup pembahasan aqidah ,kemahaesaan allah dan lain-lain. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang AQIDAH ISLAM
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Segala sesuatu yang Allah SWT
ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan. Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan
sebuah kehidupan di dalamnya, bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Sama halnya
dengan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak
sia-sia, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk mengatur atau
mengelola apa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada.
Di samping kita sebagai manusia
harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada, sebagai seorang manusia
juga tidak boleh lupa akan kodratnya yakni menyembah sang Pencipta, Allah SWT,
oleh karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang
dari apa yang diperintahkan Allah SWT.
Penyempurna aqidah yang lurus kepada
Alla SWT tidak luput dari aqidah yang benar kepada Malaiakat-Malaikat Allah,
Kitab- kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Rosul-rosul Allah untuk
disampaikan kepada kita, para umat manusia.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apakah aqidah itu?
2. Apakah sumber dari aqidah?
3. Bagaimana aqidah jika di tinjau dari ayat-ayat Al
Qur’an?
4. Apakah manfaat aqidah ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Makalah ini ditulis dengan tujuan agar kita lebih memahami apa itu
aqidah secara etimologis dan terminologis, sumber-sumber aqidah,
pengertian aqidah yang ditinjau dari ayat-ayat Al Qur’an, ruang lingkup
pembahasan dan manfaat dari aqidah untuk seorang muslim
BAB II PEMBAHASAN
AQIDAH ISLAM
Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :
Kata "‘aqidah"
diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam
(pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat),
asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan
al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin
(keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).
Aqidah artinya ketetapan yang tidak
ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah
dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan.
Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari
aqidah adalah aqa-id.
Aqidah islam itu sendiri bersumber
dari Al-Qur’an dan As Sunah, bukan dari akal atau pikiran manusia. Akal pikiran
itu hanya digunakan untuk memahami apa yang terkandung pada kedua sumber aqidah
tersebut yang mana wajib untuk diyakini dan diamalkan.
Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi)
Aqidah menurut istilah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Pengertian aqidah menurut hasan al-Banna
"Aqa'id bentuk jamak rai aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak bercampur sedikit dengan keraguan-raguan".
Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:
"Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini keshahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
Untuk lebih memahami definisi diatas kita perlu mengemukakan beberapa catatan tambahan sebagai berikut:
Aqidah menurut istilah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Pengertian aqidah menurut hasan al-Banna
"Aqa'id bentuk jamak rai aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak bercampur sedikit dengan keraguan-raguan".
Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:
"Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini keshahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
Untuk lebih memahami definisi diatas kita perlu mengemukakan beberapa catatan tambahan sebagai berikut:
1. Ilmu terbagi dua:
Pertama ilmu dharuri yaitu Ilmu yang dihasilkan oleh indera, dan tidak memerlukan dalil. Misalnya apabila kita melihat tali di hadapan mata, kita tidak memerlukan lagi dalil atau bukti bahwa benda itu ada.
Kedua adalah ilmu nazhari yaitu. Ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian.
Misalnya ketiga sisi segitiga sama sisi mempunyai panjang yang sama, memerlukan dalil bagi orang-orang yang belum mengetahui teori itu. Di antara ilmu nazhari itu, ada hal-hal yang karena sudah sangat umum dan terkenal tidak memerlukan lagi dalil. Misalnya kalau sebuah roti dipotong sepertiganya maka yang du pertiganya tentu lebih banyak dari sepertiga, hal itu tentu sudah diketahui oleh umum bahkan anak kecil sekalipun. Hal seperti ini disebut badihiyah. Jadi badihiyah adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pemuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian.
2. Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran (bertuhan), indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak. Tentang Tuhan, musalnya, setiap manusia memiliki fitrah bertuhan, dengan indera dan akal dia bisa membuktikan adanya Tuhan, tetapi hanya wahyulah yang menunjukkan kepadanya siapa Tuhan yang sebenarnya.
3. Keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin dia akan mengalami beberapa tahap.
Pertama: Syak. Yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya.
Kedua: Zhan. Salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkannya.
Ketiga: Ghalabatu al-Zhan: cenderung labih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Keyakinan yang sudah sampai ke tingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah.
4. Aqidah harus mendatangkan ketentraman jiwa. Artinya lahirnya seseorang bisa saja pura-pura meyakini sesuatu, akan tetapi hal itu tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa, karena dia harus melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya.
5. Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu. Artinya seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan.
6. Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil. Misalnya:
- Seseorang akan meyakini adanya negara Sudan bila dia mendapat informasi tentang Negara tersebut dari seseorang yang dikenal tidak pernah bohong.
- Keyakinan itu akan bertambah apabila dia mendapatkan informasi yang sama dari beberapa orang lain, namun tidak tertutup kemungkinan dia akan meragukan kebenaran informasi itu apabila ada syubhat (dalil-dalil yang menolak informasi tersebut).
- Bila dia menyaksikan foto Sudan, bertambahlah keyakinannya, sehingga kemungkinan untuk ragu semakin kecil.
- Apabila dia pergi menyaksikan sendiri negeri tersebut keyakinanya semakin bertambah, dan segala keraguannya akan hilang, bahkan dia tidak mungkin ragu lagi, serta tidak akan mengubah pendiriannya sekalipun semua orang menolaknya.
- Apabila dia jalan-jalan di negeri Sudan tersebut dan memperhatikan situasi kondisinya bertambahlah pengalaman dan pengetahuanya tentang negeri yang diyakininya itu. [4]
Dalam pengertian lain aqidah berarti pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan, dan tentang apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Pemikiran menyeluruh inilah yang dapat menguraikan ‘uqdah al-kubra’ (permasalahan besar) pada diri manusia, yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan; siapa yang menciptakan alam semesta dari ketiadaannya? Untuk apa semua itu diciptakan? Dan ke mana semua itu akan kembali (berakhir)? [5]
B. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah
Menurut Hasan al-Banna sistematika ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:
1. Ilahiyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud Allah dan sifat-sifat Allah, dan lain-lain
2. Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala seuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang Kitab-Kitab Allah, mu'jizat, dan lain sebagainya.
3. Ruhaniyat
Yaitu pembahsasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
Pertama ilmu dharuri yaitu Ilmu yang dihasilkan oleh indera, dan tidak memerlukan dalil. Misalnya apabila kita melihat tali di hadapan mata, kita tidak memerlukan lagi dalil atau bukti bahwa benda itu ada.
Kedua adalah ilmu nazhari yaitu. Ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian.
Misalnya ketiga sisi segitiga sama sisi mempunyai panjang yang sama, memerlukan dalil bagi orang-orang yang belum mengetahui teori itu. Di antara ilmu nazhari itu, ada hal-hal yang karena sudah sangat umum dan terkenal tidak memerlukan lagi dalil. Misalnya kalau sebuah roti dipotong sepertiganya maka yang du pertiganya tentu lebih banyak dari sepertiga, hal itu tentu sudah diketahui oleh umum bahkan anak kecil sekalipun. Hal seperti ini disebut badihiyah. Jadi badihiyah adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pemuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian.
2. Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran (bertuhan), indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak. Tentang Tuhan, musalnya, setiap manusia memiliki fitrah bertuhan, dengan indera dan akal dia bisa membuktikan adanya Tuhan, tetapi hanya wahyulah yang menunjukkan kepadanya siapa Tuhan yang sebenarnya.
3. Keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin dia akan mengalami beberapa tahap.
Pertama: Syak. Yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya.
Kedua: Zhan. Salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkannya.
Ketiga: Ghalabatu al-Zhan: cenderung labih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Keyakinan yang sudah sampai ke tingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah.
4. Aqidah harus mendatangkan ketentraman jiwa. Artinya lahirnya seseorang bisa saja pura-pura meyakini sesuatu, akan tetapi hal itu tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa, karena dia harus melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya.
5. Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu. Artinya seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan.
6. Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil. Misalnya:
- Seseorang akan meyakini adanya negara Sudan bila dia mendapat informasi tentang Negara tersebut dari seseorang yang dikenal tidak pernah bohong.
- Keyakinan itu akan bertambah apabila dia mendapatkan informasi yang sama dari beberapa orang lain, namun tidak tertutup kemungkinan dia akan meragukan kebenaran informasi itu apabila ada syubhat (dalil-dalil yang menolak informasi tersebut).
- Bila dia menyaksikan foto Sudan, bertambahlah keyakinannya, sehingga kemungkinan untuk ragu semakin kecil.
- Apabila dia pergi menyaksikan sendiri negeri tersebut keyakinanya semakin bertambah, dan segala keraguannya akan hilang, bahkan dia tidak mungkin ragu lagi, serta tidak akan mengubah pendiriannya sekalipun semua orang menolaknya.
- Apabila dia jalan-jalan di negeri Sudan tersebut dan memperhatikan situasi kondisinya bertambahlah pengalaman dan pengetahuanya tentang negeri yang diyakininya itu. [4]
Dalam pengertian lain aqidah berarti pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan, dan tentang apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Pemikiran menyeluruh inilah yang dapat menguraikan ‘uqdah al-kubra’ (permasalahan besar) pada diri manusia, yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan; siapa yang menciptakan alam semesta dari ketiadaannya? Untuk apa semua itu diciptakan? Dan ke mana semua itu akan kembali (berakhir)? [5]
B. Ruang Lingkup Pembahasan Aqidah
Menurut Hasan al-Banna sistematika ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:
1. Ilahiyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud Allah dan sifat-sifat Allah, dan lain-lain
2. Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala seuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang Kitab-Kitab Allah, mu'jizat, dan lain sebagainya.
3. Ruhaniyat
Yaitu pembahsasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
4. Sam'iyyat
Yaitu pembahahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'I (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
Yaitu pembahahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'I (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
C. Kemahaesaan Allah
Allah adalah
esa; satu dalam dzat, sifat dan karya-nya.Keesaan Allah merupakan gambaran
kemahakuasaan-Nya yang tidak tertandingi oleh apa dan siapapun, sebab selain
Dia adalah ciptaan-Nya belaka. Tauhid merupakan keyakinan akan keesaan Allah,
yaitu keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Keyakinan
akan keesaan Allah merupakan ciri utama dari agama Islam yang berbeda dengan
agama-agama lainnya di dunia.
Keesaan
Allah dalam ajaran Islam berbeda dengan keyakinan monoteistik pada agama Yahudi
dan Nasrani. Tauhid merupakan keyakinan akan keesaan Allah yang meniadakan
segala unsur yang lain. Satu bukanlah terdiri dari unsur-unsur atau bagian dari
bilangan, tetapi satu yang utuh. Keesaan Allah dalam keyakinan muslim bukan
hanya berupa pengetahuan dan pengakuan tetapi mendorong dalam membentuk
perilaku dan sikap tauhid yang diawali dengan persaksian melalui syahadat.
Syahadatain berbunyi:
“Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rasulullah Pengakuan dan keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah “
mengandung
arti bahwa tidak ada bentuk apapun yang dipertuhankan selain Allah. Artinya
hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan bagi seorang muslim. Tuhan diartikan sebagai
segala sesuatu yang mendominasi diri, atau yang membuat orang tergantung
kepadanya.
Apabila
ada seseorang memiliki sesuatu baik orang maupun barang atau kedudukan, apabila
dominan dan membuat orang itu tergantung kepadanya, maka orang itu tidaklah
bertauhid. Karena itu, persaksian yang dinyatakan dalam syahadat itu tidak
terbatas pada ucapan dua kalimat syahadat (syahadatain), melainkan dibuktikan
dalam berpikir, bertindak, dan bersikap. Berpikir tauhid adalah berpikir utuh
dan intgral, ia akan memandang alam maupun manusia sebagai sesuatu sistem yang
integral. Dengan demikian ia akan mampu memberikan penilaian dan bertindak
secara adil. Sementara dalam hubungannya dengan sikap, maka tauhid memiliki
implikasi dalam bentuk sikap hidup yang tidak tergantung pada siapapun selain
pada Allah, karena itu ia akan hidup berani, merdeka dan mandiri.
D. Kiamat, hukum alam, dan akhirat
Kiamat
merupakan akhir perjalanan kehidupan alam raya dan pintu masuk alam akhirat.
Peristiwa kiamat adalah hari kehancuran dunia yang di gambarkan Alquran Surat.
Al Zalzalah (kegoncangan) sebagai saat penghancuran total yang tidak ada satu
makhluk pun yang tertinggal, semua hancur, selain dalam surat Al Zalzalah,
Allah juga memberikan penjelasan tentang kiamat dalam surat Al Waqi’ah ayat
5-6, surat At Takwir ayat 1,2,3,6, dan 11.
Di riwayatkan oleh Abu
Hurairah, ia berkata:
Bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya akan datang seorang lelaki besar gemuk pada hari kiamat yang berat amalnya di sisi Allah tidak seberat sayap seekor nyamuk sekalipun. Bacalah oleh kalian: Maka Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4991)
Bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya akan datang seorang lelaki besar gemuk pada hari kiamat yang berat amalnya di sisi Allah tidak seberat sayap seekor nyamuk sekalipun. Bacalah oleh kalian: Maka Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4991)
Datangnya
hari kiamat tidak dijelaskan secara rinci baik dalam Alquran maupun hadis,
tetapi ciri-ciri akan datangnya kiamat diisyaratkan dalam berbagai hadits
Diriwayakan
oleh Abu Hurairah, ia berkata:
Rasulullah bersabda: Allah Taala menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: Akulah raja! Manakah raja-raja bumi? (Shahih Muslim No.4994)
Rasulullah bersabda: Allah Taala menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: Akulah raja! Manakah raja-raja bumi? (Shahih Muslim No.4994)
manakala
manusia tidak lagi berpegang kepada nilai-nilai ilahiyah yang menjaga
kemanusiaannya, tetapi telah menjadikan nafsu sebagai tuhannya. Apabila
diperhatikan isyarat-isyarat tentang datangnya kiamat, maka dapat dipastikan
bahwa kiamat berhubungan dengan keserakahan manusia dan ditinggalkannya
nilai-nilai agama.
Karena itu,
jika dikaitkan dengan hukum alam (sunnatullah), maka kiamat pasti akan datang
karena sebagai akibat semakin jauhnya manusia dari nilai-nilai kebaikan yang
menjadi tugas
hidupnya
sebagai khalifatullah fil ardhi dan meletakkan dirinya sebagai penguasa yang
tanpa batas. Dalam Al Quran hari kiamat memiliki tiga
puluh empat
(34) sebutan, diantaranya ;
1. Yaumul
Qiyamah (hari kiamat)
2. Yaumul
Hasroh (hari penjelasan sebab sudah tidak ada lagi kesempatan bagi umat manusia
untuk beriman dan beramal saleh guna menembus dosa-dosanya)
3. Yaumul
Hisab (hari perhitungan segala amal perbuatan baik dan buruk manusia)
4. Yaumul
Zilzalah (hari kegemparan, sebab bumi ketika itu mengalami kegoncangan yang
sangat
dahsyat)
5. Yaumul
Waqi’ah (hari kejatuhan sebab segala makhluk Allah swt benar-benar terhenti)
6. Yaumul
Roojifah (hari gempa besar)
7. Yaumul
Haaqqoh (hari kebenaran sebab semua janji Allah dalam Al Quran tentang adanya
kehidupan di alam akhirat mulai terbukti)
8. Yaumul
Thoommah (hari kesulitan sebab setiap manusia tidak dapat menyelamatkan
diri mereka
sendiri)
9. Yaumul
Talaaq (hari pertemuan, sebab orangorang yang beriman dan beramal saleh akan
dipertemukan dengan Tuhannya)
10. Yaumul
Ghosyiyah (hari pingsan karena kehidupan segala makhluk Allah swt benarbenar
terhenti)
11. Dan
sebagainya sampai 34 nama.
E. Peranan malaikat, dan makhluk ghaib lainnya serta pengaruhnya terhadap
manusia
Di samping
manusia dan makhluk lainnya yang bersifat fisik, Allah menciptakan makhluk yang
bersifat ghaib, yaitu jin, malaikat, dan setan. Jin adalah makhluk yang
bersifat ghaib; tidak tampak secara kasat mata dan menghuni dunianya sendiri
yang bersifat ghaib pula. Jin memiliki tugas yang sama dengan manusia, yaitu
beribadah kepada Allah, karena itu kebaikan dan keburukan pun terjadi di dunia
jin. Jadi di dalam dunia jin terdapat jin yang baik dan yang jahat. Di samping
jin, terdapat pula setan yang lebih ditampilkan dalam bentuk kekuatan halus
yang membisikkan keburukan kepada manusia dan jin. Sedangkan makhluk lainnya
adalah malaikat yang lebih menggambarkan kekuatan baik. Baik setan maupun jin
tidak diperoleh
gambaran
secara pasti di kalangan para hali tafsir, jadi bisa dalam bentuk makhluk yang
bersifat halus dan ghaib atau mungkin saja berupa kekuatan yang membisikkan
yang buruk
dan baik.
Yang pasti bahwa kedua makhluk tersebut berpengaruh kepada manusia dalam bentuk
bisikan untuk berbuat baik dan buruk ke dalam hati manusia yang dilakukan oleh
jin dan manusia sebagaimana dinyatakan. Alquran:
Artinya :
Katakanlah: “Aku
berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia..
sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,.
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan
manusia”
(QS. Al.Nas,
114:1-6)
Dengan
pernyataan ayat di atas dapat dipahami bahwa ada suatu kekuatan ghaib yang
membisikkan keburukan ke dalam hati manusia yang dilakukan oleh setan dengan
perantaraan jin dan manusia.
Dengan
demikian setan bisa membentuk makhluk tertentu, yaitu dalam bentuk jin atau
manusia. Beriman kepada yang ghaib diartikan sebagai keyakinan akan
kemahakuasaan Allah yang menciptakannya yang mendorong manusia untuk selalu
menyadari akan adanya godaan dan tipu daya agar manusia terjerat dalam dosa.
Kesadaran
ini diharapkan akan mendorong manusia untuk selalu meminta perlindungan Allah
dan waspada
akan segala kemungkinan bisikan buruk yang datang setiap saat. Ingat kepada
Allah dan terus menerus konsisten untuk beribadah, berdo’a dan bekerja sesuai
dengan
perintah-Nya
merupakan implikasi nyata dari iman kepada yang ghaib.
F. Tugas dan peranan Nabi dan Rasul
Nabi dan
Rasul adalah manusia-manusia pilihan yang bertugas memberi petunjuk kepada
manusia tentang keesaan Allah swt dan membina mereka agar melaksanakan
ajaranNya. Ciri-ciri mereka dikemukakan dalam Al Qur’an
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang
menyapaikan risalah-risalah Allah[1222], mereka takut kepada-Nya dan mereka
tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah
sebagai Pembuat perhitungan.
[1222]
Maksudnya: Para Rasul yang menyampaikan syari'at-syari'at Allah kepada manusia.
(QS. A;
Ahzab;39)
Tentang
perbedaan para Nabi dan Rasul dengan umat manusia biasa diterangkan dalam Al
Qur’an “ Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka
Artinya :
Rasul-rasul
mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu,
akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu
melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya
orang-orang mukmin bertawakkal.
(QS.
Ibrahim;11)
Manusia
dengan segala keterbatasan yang dimilikinya tidak mungkin mengetahui segala
informasi tentang Tuhan, kecuali diberitahu oleh Tuhan sendiri. Pencarian Tuhan
oleh manusia menyebabkan kesalahan yang sangat fatal, karena manusia menjadi
penentu Tuhannya. Dalam logika yang sehat, Tuhan sebagai pencipta haruslah Maha
Kuasa dari segala sesuatu yang diciptakannya. Oleh karena itu, manusia
memerlukan informasi tentang Tuhan dari Tuhan sendiri agar informasi yang
diterimanya benar menurut Tuhan sendiri; bukan benar menurut manusia.
Untuk
berhubungan langsung dengan Tuhan, manusia tidak memiliki kemampuan sehingga
mustahil dapat bertanya langsung kepada Tuhan. Karena itu manusia memerlukan
penjelasan tentang Tuhan melalui orang yang dipercaya oleh Tuhan untuk
menjelaskan segala sesuatu tentang Tuhan. Di sinilah peranan dan fungsi Rasul
sebagai orang yang dipercaya dan dipilih Tuhan untuk menerangkan segala sesuatu
tentang Tuhan.
Karena itu
beriman kepada Tuhan mengharuskan orang untuk beriman kepada Rasul, karena
dengan perantaraan Rasullah orang dapat mengetahui segala sesuatu tentang
Tuhan. Nabi dan Rasul adalah pembawa berita dari Tuhan, mereka tidak berbicara
atas dasar pikirannya, melainkan atas dasar wahyu.
Mengenai
penunjukkan seseorang sebagai Nabi dan Rasul bukanlah ditunjuk oleh manusia
tetapi oleh Tuhan sendiri, sebagaimana Allah menunjuk Muhammad sebagai
Rasulullah dengan firman- Nya:
Artinya :
Katakanlah:
"Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang
Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah
bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,
(QS.Fussilat,
41:6)
Sebagai
pembawa berita, Rasul hanya menyampaikan pesan Allah, bukan hasil
pemikirannya
sendiri sebagai manusia, sebagaimana firman-Nya:
Artinya :
kawanmu (Muhammad)
tidak sesat dan tidak pula keliru. dan Tiadalah yang diucapkannya itu
(Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya). QS.Al-Najm,53:2-4)
Dengan
demikian, Nabi dan Rasul memiliki peranan untuk memberitahukan kepada manusia
siapa Tuhan itu dan bagaimana rencana Tuhan, termasuk keinginan-keinginan Tuhan
atas manusia yang semua datang dari Tuhan sendiri.
Para Nabi
dan Rasul memiliki 4 (empat) sifat wajib dan empat sifat mustahil serta satu
sifat jaiz, sebagai berikut ;
1. Shiddiq
(benar), mustahil ia kizib (dusta).Artinya Nabi dan Rasul bersifat benar baik
dalam tutur kata maupun perbuatannya, yaitu sesuai dengan ajaran Allah swt.
Ditegaskan oleh Allah swt dalam firmannya
Artinya :
dan Kami
anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka
buah tutur yang baik lagi tinggi. (QS. Maryam ; 50)
2. Amanah
(dapat dipercaya), mustahil khianat (curang). Artinya para Nabi dan Rasul itu
bersifat jujur dalam menerima ajaran Allah swt, serta memelihara keutuhannya
dan menyampaikanya kepada umat manusia sesuai dengan kehendakNya.
Mustahilmereka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah swt.
3. Tabligh
(menyampaikan wahyu kepada manusia), mustahil kitman (menyembunyikan wahyu).
Artinya para Nabi atau Rasul itu pasti menyampaikan seluruh ajaran Allah swt
sekalipun mengakibatkan jiwanya terancam.
4. Fathonah
(pandai/cerdas), mustahil jahlun (bodoh), Artinya, para Nabi atau Rasul itu
bijaksana dalam semua sikap, perkataan dan perbuatannya atas dasar
kecerdasanya.Dengan demikian mustahil mereka dapat dipengaruhi oleh orang lain.
G. Fungsi Kitab suci yang dibawa Rasul
bagi umatnya Allah
menurunkan petunjuk kepada manusia melalui wahyu yang dibawa oleh para
Rasul-Nya. Alquran mencatat empat kitab suci yang dibawa rasul-rasul Allah
untuk manusia, yaitu Zabur, Taurat, Inzil dan Alquran yang masing-masing dibawa
oleh Nabi Daud, Musa, Isa dan muhammad SAW. Kitab suci yang dibawa oleh para
nabi tersebut merupakan informasi dari Allah Swt untuk disampaikan kepada
manusia. Keempat kitab suci tersebut bersumber dari Allah Swt, karena itu dari
segi keyakinan (aqidah) ketuhanannya sama, yaitu tauhid atau mengesakan Tuhan.
Sedangkan hukum-hukum (syariat) yang dibawanya memiliki perbedaan, karena
hukum-hukum itu terkait dengan kondisi dan situasi masyarakatnya, terlebih lagi
nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad diutus untuk suatu bangsa atau suku bangsa
tertentu, karena itu syariat masing-masing Nabi berbeda.
Kitab-kitab
suci yang dibawa para nabi berfungsi memberikan penjelasan tentang kebenaran
Allah Yang Maha Esa sebagai Tuhan Semesta Alam serta memberikan petunjuk jalan
yang benar kepada umatnya. Dengan berpegang kepada kitab suci, maka umat para
Nabi memperoleh jalan yang terang dalam menempuh hidupnya dan sebaliknya umat
yang tidak patuh kepada petunjuk kitab suci memperoleh siksaan.
Hal ini
tampak dalam sejarah para Nabi terdahulu yang menjadi cermin bagi umatnya yang
ada sekarang ini. Percaya kepada kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan ke
dunia merupakan bagian dari keimanan yang harus dimiliki setiap muslim.
Kepercayaan ini sebagai bukti kepatuhan kepada Allah yang mengharuskan setiap
muslim untuk beriman kepada kitab-kitab Allah.
Keimanan
terhadap kebenaran kitab-kitab itu terbatas kepada kitab-kitab atau wahyu yang
turun kepada Nabinya ketika mereka masih ada, yaitu kitab yang asli yang
sekarang sudah tidak ditemukan lagi. Sedangkan kitab-kitab lama yang sekarang
masih ada telah mengalami perubahan sebagaimana disebut dalam Alquran maupun
hadis. Terhadap ktab-kitab ini tidak ada perintah agama untuk mengimaninya,
tetapi perlakuan terhadap mereka harus dijaga dengan baik, tanpa membenarkan
isi kitab mereka.
H. Pengertian qadha dan qadar
Allah
sebagai Maha Pencipta telah meletakkan ukuran yang pasti kepada seluruh ciptaan
Nya dimana ukuran-ukuran tersebut menjadi hukum tersendiri bagi alam. Aturan yang
ditetapkan Allah atas alam tersebut seringkali disebut sunnatullah dan dalam
ilmu pengetahuan disebut hukum alam. Sunnatullah yang telah diatur sehingga
alam menjadi harmonis dan seimbang itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara
kebetulan, tetapi direncanakan secara sengaja oleh Allah Swt.
Rencana
Allah atas alam dan semua makhluknya disebut qadha Sedangkan realisasi segala
perencanaan itu disebut qadar. Perencanaan yang telah ditetapkan Allah atas
segala sesuatu merupakan hak Allah dan manusia tidak bisa mengintervensinya.
Disebutkan dalam hadits riwayat anas bin malik ra.
Sesungguhnya
Allah Taala mengutus seorang malaikat di dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya
Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan!
Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk
menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan!
Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia?
Bagaimanakah rezekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan
dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)
Demikain
pula Allah berhak untuk menentukan dan melaksanakan apa yang direncanakannya
untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan-Nya. Allah menetapkan qadha dan
qadar dan siapapun tidak akan bisa merubahnya kecuali Allah sendiri.
Allah yang
berhak merobah ketentuannya karena Dia Maha Kuasa atas segalanya, misalnya: api
adalah zat yang telah ditentukan Allah untuk memiliki sifat panas dan dapat
membakar sesuatu. Tetapi suatu saat api yang panas itu dirobah-Nya untuk dingin
sehingga Nabi Ibrahim selamat dari pembakaran yang dilakukan musuhnya. Demikian
pula hukum-hukum yang lain, misalnya apabila benda dilepaskan dari suatu
ketinggian, maka benda itu akan jatuh ke bumi.
Jatuh ke
bumi adalah takdir Allah yang disebut oleh ilmu pengetahuan dengan istilah
gravitasi. Kemudian manusia memikirkan dan mengusahakan dengan kemampuannya
untuk
menghindarkan
gravitas bumi dengan membuat peralatan tertentu seperti pesawat udara, maka
gravitasi
itu pun dapat dihindari dan manusia dapat melayang di udara. Kemampuan manusia
untuk melayang di udara dengan pesawat terbang itu juga adalah takdir Allah.
Dari kedua contoh di atas tampak bahwa Allah menetapkan dan merubah takdir
segala sesuatu. Perubahan itu merupakan kekuasaan Allah dan sebagian dapat
dirubah oleh manusia
melalui
usaha-usahanya. Takdir yang berupa ketetapan atau hukum Allah atas segala
sesuatu tidak terlepas dari sifat Allah Yang Maha Adil,
karena itu
segala usaha manusia akan diperhitungkan Allah sebagai gambaran keadilan- Nya
itu. Demikian pula dengan nasib seseorang, Allah telah menetapkan qadha dan
qadarnya yang tiada seorang pun mengetahuinya. Selanjutnya manusia didorong
untuk berusaha
sekuat
tenaga untuk mendapatkan takdir yang terbaik untuknya. Allah Maha Adil untuk
memberikan perhargaan pada usaha yang dilakukan manusia, karena itu bisa jadi
takdirnya
menjadi baik
pula baginya. Dengan demikian qadar dan ikhtiar merupakan dua hal yang tidak
terpisahkan, tetapi takdir Allah yang terjadi pada seseorang setelah berikhtiar
merupakan keputusan Allah yang terbaik bagi orang itu. Karena Allah hanya
memberikan yang terbaik
sesuai
dengan sifatnya Yang Maha pengasih dan Penyayang. Walaupun yang terbaik menurut
Allah tidak selalu sama dengan keinginan dan harapan manusia.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Aqidah adalah ketetapan yang tidak
ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan, atau sebuah keyakinan.
Keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT dimana tidak ada keraguan di dalam dirinya.
Yakin bahwa Allah itu Esa/ satu, dan tidak berbuat kafir atau menyekutukan
Allah.
Aqidah islam itu sendiri bersumber
dari Al-Qur’an dan As Sunah, bukan dari akal atau pikiran manusia. Akal pikiran
itu hanya digunakan untuk memahami apa yang terkandung pada kedua sumber aqidah
tersebut yang mana wajib untuk diyakini dan diamalkan.
Atas dasar ini, akidah merzcerminkan
sebuah unsur kekuatan yang mampu menciptakan mu'jizat dan merealisasikan
kemenangan-kemenangan besar di zaman permulaan Islam.
Keyakinan harus di dasari dengan
mengesakan Allah, karena barang siapa yang menyakin adanya Tuhan maka hendaknya
harus yakin bahwa Allah itu esa/satu. Seperti di tuangkan pada surat Al Ikhlas
bermakna memurnikan ke esaan Allah SWT, diterangkan bahwa kandungan Al-Qur’an
ada tiga macam: Tauhid, kisah-kisah dan hukum-hukum. Dan dalam surat ini
terkandung sifat-sifat Allah yang merupakan tauhid. Dinamakan surat Al-Ikhlash
karena didalamnya terkandung keikhlasan (tauhid) kepada Allah dan dikarenakan
membebaskan pembacanya dari syirik (menyekutukan Allah )
DAFTAR PUSTAKA
[Disalin
dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdu! Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama
Jumadil Akhir 1425HIAgustus 2004M]
[1].
Lisaanul `Arab (IX/31 1:tj-~) karya tbnu Nlanzhur (wafat th. 711 H) t dan
Mu'jamu! Wasiith (tl/614:tL.3-~).
[2]. Tauhid
Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma' wa Shifat Allah.
[3]. Lihat
Buhuuts fii `Aqiidah Ahtis Sunnah wat Jamaa'ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin
`Abdul Karim at `Aql, cet. !II Daarul `Ashimah/ th. 1419 H, `Aqiidah Ahiis
Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim alHamd dan
Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah fil `Aqiidah oleh Dr. Nashir bin `Abdul
Karim al-`Aql.
[Disalin
dari kitab AI-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun
Syaikh Muhammad Shalih AI-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Daru(
Haq, Cetakan Rabi'ul Awwa( 1420HIJuni 1999M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar